FKUB: Kampus Perjuangan

Dimana kebersamaan, intelektualitas dan profesionalisme menjadi sebuah inovasi bermanfaat untuk Semua :)

The Dream Team -Stempowering-

One of the best team that i've ever had.

International Conference +Networking+ Travelling

Hope your beloved homeland will be the next destination :D

Youth and Activism

The best of mankind is while they could give benefit towards another people, let us share and care

Still Long Road to Endeavour at Very Best

Wait for the next blog's content, stay tuned bro and sis :D

Reccomend This

Search Button

Tampilkan postingan dengan label Inspiration. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiration. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2012

Sebuah Surat Untuk Dokter dan Mahasiswa Kedokteran

Rekan sejawat yang terhormat,

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk bisa kaya raya, maka segeralah kemasi barang-barang Anda.
Mungkin fakultas ekonomi lebih tepat untuk mendidik anda menjadi businessman bergelimang rupiah
Daripada Anda harus mengorbankan pasien dan keluarga Anda sendiri demi mengejar kekayaan.

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk mendapatkan kedudukan sosial tinggi di masyarakat, dipuja dan didewakan, maka silahkan kembali ke Mesir ribuan tahun yang lalu dan jadilah fir’aun di sana. Daripada Anda di sini harus menjadi arogan dan merendahkan orang lain di sekitar Anda hanya agar Anda terkesan paling berharga.

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk memudahkan mencari jodoh atau menarik perhatian calon mertua, mungkin lebih baik Anda mencari agency selebritis yang akan mengorbitkan Anda sehingga menjadi artis pujaan para wanita. Daripada Anda bersembunyi di balik topeng klimis dan jas putih necis, sementara Anda alpa dari makna dokter yang sesungguhnya.

Dokter tidak diciptakan untuk itu, kawan.

Memilih menjadi dokter bukan sekadar agar bisa bergaya dengan BMW keluaran terbaru, bukan sekadar bisa terihat tampan dengan jas putih kebanggaan, bukan sekadar agar para tetangga terbungkuk-bungkuk hormat melihat kita lewat.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengabdian. Mengabdi pada masyarakat yang masih akrab dengan busung lapar dan gizi buruk. Mengabdi pada masyarakat yang masih sering mengunjungi dukun ketika anaknya demam tinggi.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan empati, ketika dengan lembut kita merangkul dan menguatkan seorang bapak tua yang baru saja kehilangan anaknya karena malaria.

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kemanusiaan, ketika kita tergerak mengabdikan diri dalam tim medis penanggulangan bencana dengan bayaran cuma-cuma.

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kepedulian, saat kita terpaku dalam sujud-sujud panjang, mendoakan kesembuhan dan kebahagiaan pasien-pasien kita.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan berbagi, ketika seorang tukang becak menangis di depan kita karena tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit anaknya yang terkena demam berdarah. Lalu dengan senyum terindah yang pernah disaksikan dunia, kita menepuk bahunya dan berkata, “jangan menangis lagi, pak, Insya Allah saya bantu pembayarannya.”

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan kasih sayang, ketika dengan sepenuh cinta kita mengusap lembut rambut seorang anak dengan leukemia dan berbisik lembut di telinganya,”dik, mau diceritain dongeng nggak sama oom dokter?”

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan ketegasan, ketika sebuah perusahaan farmasi menjanjikan komisi besar untuk target penjualan obat-obatnya, lalu dengan tetap tersenyum kita mantap berkata, “maaf, saya tidak mungkin mengkhianati pasien dan hati nurani saya”

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengorbanan, saat tengah malam tetangga dari kampung sebelah dengan panik mengetuk pintu rumah kita karena anaknya demam dan kejang-kejang. Lalu dengan ikhlas kita beranjak meninggalkan hangatnya peraduan menembus pekat dan dinginnya malam.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan terjal lagi mendaki untuk meraih cita-cita kita. Bukan, bukan kekayaan atau penghormatan manusia yang kita cari. Tapi ridha Allah lah yang senantiasa kita perjuangkan.

Yah, memilih menjadi dokter adalah memilih jalan menuju surga, tempat di mana dokter sudah tidak lagi perlu ada…


NB :
Ini bukan provokasi untuk menjadi dokter miskin, bukan juga mengatakan bahwa dokter tidak perlu penghormatan atau hal-hal duniawi lainnya. Tulisan ini hanya sekadar sebuah nasihat untuk diri sendiri dan rekan sejawat semua untuk meluruskan kembali niat kita dalam menjadi seorang dokter. Karena setiap amalan tergantung pada niatnya. Silakan menjadi kaya, silakan menjadi terhormat, asal jangan itu yang menjadi tujuan kita. Dokter terlalu rendah jika diniatkan hanya untuk keuntungan duniawi semata. Mungkin akan sangat susah untuk menggenggam erat idealisme ini nantinya. Namun saya yakin, jika ada kemauan yang kuat dan niat yang tepat, idealisme ini akan terbawa sampai mati. Walaupun harus sendirian dalam memperjuangkannya, walaupun banyak yang mencemooh dan merendahkan. Saya yakin, Allah tidak akan pernah salah menilai setiap usaha dan perjuangan hamba-hamba-Nya. Tidak akan pernah.

cited from: Aditya Putra Priyahita,


semoga ini makin membuat kita rindu untuk bisa reuni anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di surga nanti




Rabu, 07 Maret 2012

Seorang Mahasiswa Mematahkan Pernyataan Seorang Profesor


Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".




Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".




"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.




Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan".




Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Agama itu adalah sebuah mitos.




Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?".




"Tentu saja," jawab si Profesor,




Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"




"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada.




Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.




Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada.


Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."


Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?" Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."




Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak.




Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak.




Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk meme-cahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."


Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"




Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya.




Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."




Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak.




Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan.


Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."



Profesor itu terdiam.





Nama mahasiswa itu adalah "Albert Einstein"




http://www.youtube.com/watch?v=AmzB9UKPsJc

HICSP (Health Interdisciplinary Community Service Project): Integrated Model of Interprofessional Competence Development within Student Activity


Makhyan Jibril Al Farabi*

*Faculty of Medicine, Brawijaya University

makhyan.jibril@gmail.com





Introduction

Latest report form Institute of Medicine [1] “Crossing the Quality Chasm: A New Health System for the 21st Century” concluded that a major overhaul of the health care system was required and stressed that such a redesigned system should be predicated on multidisciplinary teams that developed by interprofessional education. All multidisciplinary health care professionals should be educated to deliver patient-centered care with interaction, as the important goal are to collaborate in providing promotive, preventive, curative, rehabilitative, and other health-related services.

Nevertheless, problems arise when interprofessional education will be integrated in academic curricula. The most commonly cited barrier was the already overloaded curricula at the individual health profession schools. A number of interviewees suggested that interprofessional education programs would have to take the place of previous courses and could not simply be added on to the already overfull curricula, this probably will decrease student motivation in learning activity [2]. Also, simply putting different professional students together in the same lecture theater or having faculty from one school deliver lectures to students from other professional schools does not constitute effective interprofessional education [1,2]



HICSP Concept

As an active generation, mostly undergraduate in all over the world develop student activity to express their youth spirit and motivation. Student will develop and perform their activity compassionately even without being paid and mostly will said that student activity are more enjoyable than classroom studying[3]. Report from Fisher[4] show that there is obviously significant motivation and interest among medical students to engage in community service activity. This prove that community service project has great potential to be integrated with  interprofessional education when performed by multidisciplinary team.

Role model of HICSP application can be seen in Faculty of Medicine in Brawijaya University. Having 6 disciplinary education (Medical Doctor, Dentist, Nutritionist, Nurse, Pharmacist and Midwifery in one faculty and perfomed by 2nd semester student as the grand project of their generation, HICSP were successfully held in Petungsewu Village, Malang 8-11 Juli 2011 by 800 student. While undergraduate weren’t permitted to do clinical intervention, all students were focused in to develop health promotion and prevention for the village inhabitant.  To develop successful HICSP, student will cooperate, collaborate, communicate, and integrate care in teams to ensure the holistic health promotion performed well by their every disciplinary.



Future Plan of Action

It’s obvious that all national organization of undergraduate health profession (ISMKI, ILMIKI, PSMKGI, ILMAGI etc) in Indonesia has their own community service project. Also, most of big university in Indonesia has multidisciplinary health student, either integrated in one faculty (such as UGM, UMJ, UNSOED, UB, UNUD, UA) or not (UI, UMS etc). National organization of undergraduate student has the right to lead their local branch[5]. Thus, the best plan is enforce these organization to collaborate their community service project to develop HICSP. When this supported by educational institutions involved, student will able to develop better and enjoyable interprofessional education in their every local organization.





References
Institute of Medicine. 2001. Crossing the quality chasm: a new health system for the 21st century. Washington, DC: National Academies Press.
Mary, Rafter, Igor J. Pesun, Michael Herren, Jeffrey C. Linfante, Mina Mina, Christine D, Jane P. Casada. 2006. A Preliminary Survey of Interprofessional Education. J Dent Educ.; 70(4): 417-427.
Muller, David, Yasmin Meah, Jeffrey Griffith, , Ann-Gel Palermo, Arthur Kaufman, Kirk L. Smith, and Steven Lieberman. 2010. The Role of Social and Community Service in Medical Education: The Next 100 Years. Acad Med. 85:302–309.
Fisher, Holly Michaels. 2006. Community Service as an Integral Component of Undergraduate Medical Education: Facilitating Student Involvement. http://depts.washington.edu/ccph/pdf_files/UHICommSvc.pdf. Accessed 16.00  at 15 August 2011
Mighfaza, Zainullah. 2011. Grand Design ISMKI. Purwokerto, KIK ISMKI



Nilai Kolegium: Tonggak Lahirnya Generasi Emas FKUB


Merupakan 4 kata yang selalu menggema di kampus kita tercinta, Nilai yang merupakan landasan berfikir dan bertindak dalam kehidupan di FKUB. Nilai yang menunjukkan budaya dan ciri khas dari FKUB yang telah mengakar di hati para mahasiswanya. Ya, Inilah dia! Nilai kolegium mahasiswa FKUB. Terdiri dari nilai religius, moralis, intelek dan professional, nilai ini-lah yang menjadi kunci dalam mencetak mahasiswa generasi emas harapan bangsa, yakni pribadi yang unggul, berkualitas dengan hati yang mulia dan ketaqwaan pada Tuhan YME. Luar biasanya, beberapa kali nilai ini menjadi referensi untuk diadopsi fakultas lain yang ingin mengakselarasikan kualitas mahasiswanya. Sungguh, kalau boleh dikatakan, patut disyukuri karena kita diberi kesempatan untuk mengimplementasikan nilai kolegium ini dalam keseharian kita.



Dalam penjabarannya lebih lanjut, nilai religius menjadi nilai yang pertama dan utama dalam pembinaan kepribadian mahasiswa FKUB. Religius merupakan nilai yang paling penting, karena kalau seseorang tidak memegang peran agama dalam hidupnya, maka dia akan bingung dalam mengarahkan hidupnya. Agama merupakan “way of life” yang akan selalu menolong pemeluknya dari kegelapan hati dan memberikan kesejukan dan cahaya kebaikan bagi ia yang memahami serta melaksanakan perintah agamanya. Setiap pribadi yang memahami agama kelak akan memiliki hidup yang penuh dengan kebaikan dan kebahagiaan. Agama akan menjaga supaya nilai keburukan, hedonisme dan kesia-siaan tidak menggerogoti para pemeluknya. Agama adalah ujung tombak setiap individu, andai kita tidak memilikinya maka sepintar, secerdik, sekaya apapun kita, tidak akan dapat bermanfaat sama sekali.



Manusia dalam kehidupannya di dunia memiliki dua sifat yaitu sifat materiel dan spiritual. Keinginan manusia yang berlebihan dalam memenuhi dan mengumbar hawa nafsunya dengan mengabaikan nilai-nilai moral, akhirnya menyebabkan dirinya terjerumus ke lembah kehidupan yang gelap. Karena ingin menuruti segala keinginannya ia  mengorbankan seluruh kehidupan bahkan sampai harga dirinya. Kenyataan tersebut sebagai cerminan bahwa jiwa manusia kini sudah semakin diperbudak oleh keinginan duniawi berupa materi, yang tanpa disadari hal itu akan menghancurkan serta menyengsarakan dirinya pada kehidupan di dunia maupun akherat. Fenomena yang sekarang yang terjadi ialah degradasi moral yang berat pada remaja generasi penerus bangsa Indonesia. Kalau dahulu bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang ramah dan sopan pada orang lain, sekarang bisa kita saksikan sendiri, betapa banyak pemuda yang tidak menerapkan tata krama kesopanan dalam bergaul, berpakaian dan bertutur-kata baik dengan temannya maupun orang lain. Bayangkan apabila pakaian yang lebih sopan sebenarnya sudah ada, ternyata hal ini diabaikan. Pakaian yang digunakan malah pakaian minim dan ketat yang tentunya bertujuan untuk pamer moleknya anggota tubuh belaka ataupun pakaian jeans robek-robek ditambah aksesoris berlebihan dengan alasan gaya anak punk atau sebagainya. Fenomena seperti ini selain merusak moral pribadi juga berpotensi merusak moral dari orang lain yang menyaksikannya. Tidak hanya itu, tidak sedikit pula fenomena tenaga kesehatan yang memperlakukan pasiennya dengan semena-mena, mengacuhkan dan menjelek-jelekkan pasien yang miskin dan memuja yang kaya. Ataupun fenomena hedonisme dan duniawi berlebihan tuk mengahmbur-hamburkan uang disaat diluar sana banyak yang mati kelaparan. Tak heran jika fenomena ini menjadi sorotan dosen kita, coba saja, jika nanti kolega sudah masuk fase klinik, sepandai apapun anda, setinggi apapun jabatan anda di lembaga kemahasiswaan, apabila tingkah laku dan moralitas anda hancur maka tinggal menunggu waktu anda akan mengulang stase atau tidak lulus dalam lab tersebut dan mengulang. Ingat kawan, tenaga kesehatan ialah pribadi dengan hati nurani yang ikhlas untuk memberi dan berbakti dengan bekal moral yang merupakan suatu harga mati yang harus benar-benar tertancap pada diri kita. “It's your attitude, not your aptitude which determines your altitude in life”.



“Jika kalian ingin bahagia didunia, maka kuasailah ilmu, jika kalian ingin bahagia diakhirat, maka kuasailah ilmu, jika kalian ingin bahagia kedua-duanya, maka kuasailah ilmu”. Intelek merupakan sebuah nilai yang penting bagi tenaga kesehatan, dimana saat menjadi seorang tenaga kesehatan kelak, dimana keilmuan kita adalah pasti digunakan dan diaplikasikan dan keilmuan kita akan berpengaruh terhadap nyawa dari seseorang. Oleh karenanya mahasiswa kedokteran dituntut untuk memiliki intelektualitas yang tinggi sehingga kemampuanya tersebut dapat digunakan untuk menolong nyawa dari pasiennya. Selain itu, ilmu kedokteran merupakan ilmu yang perkembangannya sangat pesat dari tahun ke tahun, sehingga wajar apabila mahasiswa kedokteran dituntut menjadi pembelajar seumur hidup. Tentunya menjadi pribadi yang intelek dari segi akademik maupun akademik akan menghindarkan kita semua di masa depan kelak dari kejadian malpraktek maupun penyesalan akibat dangkalnya ilmu. “Wahai anak muda, Jika engkau tidak tahan dengan lelahnya belajar dengan tekun dan keras, engkau harus siap untuk menelan pahit dan pedihnya kebodohan kelak”



Terakhir, yakni profesional. Nilai ini merupakan penyempurna dari nilai-nilai lain yang ada. Nilai ini-pun merupakan bekal yang paling penting dalam menekuni profesi kelak. Profesionalisme mengandung arti yakni “Melakukan sesuatu sebaik-baiknya dengan segenap potensi yang ada, sesuai mungkin dengan rencana dan disiplinitas yang tinggi”. Sungguh tidak akan dapat kita bayangkan apabila profesionalisme tidak tertanam sejak dini, dimana nantinya akan terjadi kematian pasien hanya akibat tenaga kesehatannya terlambat karena alasan malas ataupun lupa tidak membawa peralatan medis. Nilai profesionalisme apabila diterapkan dengan seoptimal mungkin bukan hanya menurunkan kemungkinan terjadinya hal yang tidak diinginkan di masa depan, tapi juga mampu meningkatkan kualitas pribadi sehingga mampu menjadi orang yang lebih dibandingkan lainnya. “Jika kita ingin menjadi manusia rata-rata, maka lakukan hal biasa dengan biasa-biasa saja, tapi jika kita ingin menjadi manusia yang luar biasa, maka lakukanlah hal biasa dengan professional dan kesungguhan yang luar biasa”.



            Kalau kolega saat ini mengagumi para lulusan FKUB seperti motivator yang luar biasa sekaliber dr.Arief Alamsyah sampai peneliti yang meraih rekor MURI seperti mas zulvikar dan tenaga kesehatan luar biasa lainnya, tentunya kualitas demikian tercipta dari PROBINMABA dan penerapan nilai kolegium dalam kesehariannya. Karenanya, mulai saat ini, mari kita giatkan ibadah kita pada Tuhan, kita tingkatkan intensitas tuk memahami dan mengaplikasikan kitab suci pedoman hidup kita, kita terapkan 5s non s sebagai manusia yang saling menghormati, kita tingkatkan belajar dan update info terbaru tentang keilmuan maupun kelembagaan, kita terapkan disiplin dan profesionalisme dalam bertindak. Sehingga kelak, buah manisnya akan kita rasakan ketika kita telah menjadi peribadi berkualitas, yang mampu membanggakan orang tua, Almamater, Bangsa dan Negara.





Hidup Mahasiswa!!

Jumat, 13 Januari 2012

Ayo Rame Rame Menjadi Mahasiswa yang SO!!! (Study Oriented)..


Kata study oriented (biasa dikenal dengan istilah eS O) sudah cukup akrab di telinga para pelajar/mahasiswa (makanya gak salah juga kalo tema ini dipilih menjadi a topic of debate contest). Mahasiswa mungkin sering membahasakan atau menuduh seorang temannya sebagai mahasiswa yang study oriented. Atau mungkin kita pernah menerima nasehat supaya jangan jadi mahasiswa yang study oriented. Dan mungkin masih banyak pernyataan dan asumsi lainnya yang menekankan bahwa menjadi mahasiswa yang study oriented adalah sesuatu yang patut dihindari.
Pertanyaannya adalah: apa yang dimaksud dengan study oriented, dan apakah ada yang salah dengan study oriented?

# Study oriented, makhluk apakah engkau?
Study = process of learning; orientation: direction of development (dari Encarta Dictionary®). Secara sederhana, orang yang study oriented bisa kita defenisikan sebagai orang yang berorientasi kepada proses pembelajaran. Berorientasi berarti mengutamakan atau mengarahkan.

Secara gamblang, sepertinya tidak ada yang salah dengan istilah tersebut. Saya bahkan cenderung menilai bahwa adalah keharusan bagi setiap insan akademik untuk selalu study oriented. Ketika dihadapkan pada berbagai persoalan dan pilihan dalam hidup sebagai seorang pembelajar, maka kita harus study oriented. Kita harus menjatuhkan pilihan kepada hal yang memberikan proses pembelajaran, atau kita harus mengarahkan segala sesuatunya untuk menjadi pelajaran.
Study oriented bukan berarti belajar saja dan menanggalkan status sosial sebagai mahasiswa (meskipun tidak ada yang salah dengan “belajar saja”). Study oriented juga bukan berarti meninggalkan proses berteman untuk kemudian bisa konsen dan fokus untuk belajar. Dan yang lebih penting, study oriented bukan berarti mengharamkan diri untuk berorganisasi sebanyak yang dirasa bisa terfasilitasi.

# Berorganisasi: penting tapi kadang troublesome
Sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa kepemimpinan dan kemampuan manajerial adalah attitude yang penting dimiliki oleh tamatan perguruan tinggi. Lima tahun kuliah (mungkin ada juga yang lebih… ) sepertinya sudah terbilang cukup untuk berusaha mengasah kemampuan manajerial dan leadership seorang mahasiswa. Dan the only choice-nya adalah dengan berorganisasi. Menjadi pengurus dan aktif di sana-sini adalah bentuk manifestasinya. Namun pilihan ini membawa konsekuensi bagi pelakunya: konsekuensi tentang manajemen waktu 
(lebih tepatnya: manejemen diri, karena waktu tidak bisa di-menej, dirilah yang bisa diatur).


berorganisasi, biar hidup lebih sophisticated

Kebanyakan kita biasanya berdalih bahwa berorganisasi berarti menyita waktu dan akan mempengaruhi prestasi akademik kita. Dengan kata lain, jika lebih diperjelas, kita beranggapan bahwa berorganisasi adalah perihal yang menyita waktu belajar kita sehingga mempengaruhi kualitas akademik kita.

Saya ingin menyampaikan fakta bahwa, berorganisasi sama sekali tidak menyita waktu belajar kita.Berorganisasi hanya menyita waktu bermain-main kita dan mengambil waktu bermalas-malasan kita. So, what gitu lho…? Itu kan namanya pemanfaatan dan optimalisasi waktu bukan…?

Faktanya lagi, pengamatan kita membuktikan bahwa porsi belajar antara seseorang 
yang aktif berorganisasi dengan seseorang yang ‘biasa-biasa saja’ adalah relatif sama. Terlepas apakah seseorang itu aktivis atau tidak, frekuensi belajarnya adalah sama saja (kebanyakan sama-sama semalam sebelum hari H ujian, hihi… ). Bahkan mungkin cenderung sebaliknya. Seorang aktivis yang lebih sibuk biasanya memiliki penghargaan yang lebih besar terhadap waktu dibandingkan dengan yang ‘biasa-biasa saja’, sehingga mereka yang sibuk dapat mengefektifkan ketersediaan waktunya.

# Study Oriented ≠ Study Only
Selama ini, kita beranggapan bahwa mahasiswa yang study oriented adalah mahasiswa yang hanya kuliah melulu dan menutup mata dengan dunia yang jauh lebih luas dari ruangan kelas dan laboratorium. Atau dengan istilah yang sering kita dengar: mahasiswa kupu-kupu (kuliah – pulang – kuliah – pulang). Mahasiswa robot dengan serentetan kode perintah yang sudah tertanam di dalam chip-nya: bangun pagi, ke kampus untuk kuliah, nge-lab, pulang, kerjakan tugas, istirahat, kampus, kuliah, pulang, dan seterusnya. Mahasiswa yang paham dengan begitu detailnya tentang apa yang ada di kelas dan apa yang ada di labor, tetapi sangat awam terhadap apa yang ada di luar kelas (meskipun masih dalam lingkungan kampus). Kita juga beranggapan bahwa orang ini adalah orang yang hanya memikirkan aktivitas kuliahnya dan sama sekali mengesampingkan aktivitas belajar lainnya. 

Aktivitas belajar lainnya? Ya, belajar bagaimana mengaktualisasikan diri; belajar bagaimana membangun komunikasi; belajar bagaimana bersosialisasi; dan belajar bagaimana menjadi pemimpin.

Saya kira, momok yang selama ini kita tempelkan terhadap terhadap istilah “study oriented” seharusnya kita labelkan kepada “study only” (kebetulan sama-sama disingkat SO). Karena sebagai mahasiswa kita memang diutus untuk belajar dan menjadi seorang pembelajar. Seandainya kita merantau dari kampung dan kemudian menerima biaya dari orang tua, maka memang tugas dan risalah kita adalah untuk belajar. Namun, betapa sempitnya pemikiran kita seandainya “belajar” yang kita pahami adalah kegiatan akademik di kelas dan lab dan didampingi oleh dosen dan tenaga pengajar.

Betapa banyak pelajaran dan hikmah yang tidak dapat dihadirkan oleh seorang dosen, tetapi muncul dari seorang teman. Tidak jarang suatu keahlian berawal dari proses pertemanan.

# Prestasi sering berawal dari organisasi
Pengalaman membuktikan bahwa berorganisasi berarti membuka peluang untuk hadirnya prestasi, baik secuil maupun segudang *owalaah… Pengalaman orang lain mungkin tidak akan begitu mudah membuat kita percaya dengan statement yang satu ini. Namun bagaimana jika ini adalah pengalaman pribadi? Makanya buktikan sendiri…!

Fakta di lapangan sudah membuktikan bahwa nyaris semua mahasiswa berprestasi adalah mahasiswa yang juga aktivis. Betapa banyak mahasiswa yang aktif di kegiatan kepenulisan kemudian mengantarkannya kepada predikat mahasiswa berprestasi dalam karya tulis ilmiah. Tidak sedikit juga mahasiswa yang aktif di beberapa lembaga kemahasiswaan kemudian berprestasi dalam lomba pemikiran kritis tingkat nasional, lomba debat, pidato atau orasi ilmiah. Atau aktivis di kegiatan kerohanian yang kemudian juara MTQ tingkat nasional, cabang MHQ, MFQ, atau cabang lainnya dalam MTQ. Atau dalam ajang pemilihan mahasiswa berprestasi, student award, dan lain sebagainya. Karena berorganisasi cenderung melahirkan suatu jati diri, suatu prinsip.

# SO yuk…!
So, tidak ada yang salah dengan study oriented. Kita kuliah memang untuk belajar. Bahkan kita hidup adalah untuk belajar, study oriented selamanya. Belajar adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan untuk dilaksanakan seumur hidup, mulai dari kecil sampai akhir hayat.
Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat” (Al Hadits)

Berorganisasi memunculkan teman. Berteman melahirkan pergaulan. Pergaulan membawa pada dinamika. Dan dinamika membawa kepada kematangan hidup sebagai seorang pembelajar ilmu kehidupan yang benar-benar nyata akan dibutuhkan

Mari kita orientasikan hidup kita yang seharusnya kita pergunakan sebaik2nya untuk berorientasi pada 
belajar ilmu akademik, 
belajar ilmu untuk aktualisasi diri,,
belajar ilmu untuk bisa bersosialisasi dan berinteraksi, 
belajar ilmu untuk bisa menjadi seorang pemimpin sejati
belajar untuk menjadi orang baik yang menerapkan nilai religius moralis intelek profesional
belajar untuk menjadi pribadi yang mampu memberikan manfaat sebanyak2nya bagi orang disekitar kita
belajar untuk bisa membangun dan membanggakan bangsa kita..

apalagi sebagai mahasiswa kesehatan, kita dituntut untuk menjadi pembelajar seumur hidup!!!!

So, tunggu apa lagi???
:)
Belajar tiada henti, sampai akhirnya impian itu tecapai juga :D

Rabu, 04 Januari 2012

Apakah kita benar-benar seorang “Mahasiswa Kesehatan”??

Apakah kita benar-benar seorang “mahasiswa kesehatan”??
Sebuah pertanyaan besar yang seringkali muncul dalam benak kita,,,


(Sebuah monumen yang menggambarkan, indahnya janji akan perbaikan, baik kini maupun masa depan, Makassar 2011)

Adalah sebuah lapisan kecil dari komunitas penduduk yang dimiliki negeri ini, Jumlahnya tak lebih hanya 5 % dari kurang lebih 235 juta penduduk Negara zamrud khatulistiwa yang kita elu-elukan kekayaan alamnya ini. Walaupun jumlahnya sekecil itu. Namun, pernahkah anda menyadari bahwa kelebihan, peran dan tanggung jawab yang dimiliki seorang mahasiswa menjadikan mahasiswa merupakan kaum intelektual garda terdepan yang diharapkan masyarakat untuk menjadi pemimpin mereka, 
ya, inilah kita semua..mahasiswa Indonesia.

Dalam lingkup yang lebih kecil lagi, mari kita tinjau bagaimana tiap generasi berjuang keras untuk membangun kesehatan Indonesia yang maju dan berkualitas. Mereka tak lebih dari 0,5% jumlah penduduk negeri ini. Mereka ialah invdividu yang diharapkan untuk bekerjasama dalam memberikan kontribusi dan mewujudkan 
kesejahteraan masyarakat Indonesia, khususnya di bidang kesehatan. Ya, dan komunitas kecil itu adalah kita semua kawan, mahasiswa kesehatan Indonesia!

Sungguh kesempatan yang agung ketika kita bisa diberi kesempatan untuk menimba ilmu di perguruan tinggi. Kesempatan menganyom pendidikan tinggi di negeri ini masih merupakan sebuah barang langka dan ekslusif. Hanya mereka yang mampu secara financial dan intelektual yang berkesempatan untuk menjadi mahasiswa di negeri ini. Apalagi sebagai calon praktisi kesehatan yang dikenal masyarakat sebagai pahlawan kesehatan. Tidak jarang ketika mahasiswa kesehatan masih menempuh semsester satu di pendidikannya, namun kolega, maupun masyarakat di sekitarnya sudah mulai menanyakan permasalahan kesehatan yang sedang mereka alami. Miris sekali ketika kita masih maba lalu mendegar kata-kata semacam “nak, ini aku sakit di bagian sini, kira-kira obatnya apa ya, ngobatinya gimana?” yang membuat bergejolak tanda tanya besar di pikiran kita, apa maksudnya ini semua?. Jawabanya tak ayal lagi, inilah bukti konkrit besarnya harapan seluruh lapisan masyarakat kepada mahasiswa kesehatan, yaitu kita semua. 

Seharusnya semua ini membuat kita sadar, Ironis sekali ketika kita tidak bisa memberikan kontribusi nyata untuk mewujudkan harapan masyarakat itu dengan semua kenikmatan yang kita terima? Kemana mahasiswa kedokteran yang dimasa kemerdekaan mampu menjadi poros penggerak dan thinker bagi Negara seperti yang dilakukan dr. Soetomo dan dr. Cipto Mangunkusumo dalam Boedi Utomo? Dimana dengungan tingginya rasa kepedulian sosial kita kepada masyarakat?

Kawan, sadarlah ketika seluruh harapan tersebut ditumpukan pada kita, adalah suatu keharusan pada kita semua untuk benar-benar melakuan pergerakan dan perjuangan demi kontribusi nyata bagi bangsa ini. Arti kontribusi disini bukanlah hanya sebatas memberikan penyuluhan dan pengabdian kepada masyarakat saja. Kontribusi yang benar-benar diharapkan masyarakat ialah yang mampu membawa pembangunan kesehatan secara sistemik dari bangsa Indonesia seperti halnya mengawal dan mengapresisasi kebijakan pemerintah di bidang kesehatan dan pencapaian kompetensi 7 star doctor yang pernah diajarkan dr ariief pada IKM smt 1 yang meliputi care provider, decision maker, communicator, community leader, manager, researcher dan religius secara keseluruhan. 

Silahkan anda bertanya pada anda sendiri mana yang sudah anda lakukan sebagai seorang mahasiswa kesehatan?
kira-kira mana saja yang kita dapat di pembelajaran kampus??

semoga ini bisa menjadi evaluasi kita kedepan....
HIDUP MAHASISWA.........


(Secarik esay pertama, yang bangkitkan semangat menulis dan selalu berkarya..)

 
Blogger Widgets